"DIAMKU UNTUK AKSARA BATILMU"
Sewarna darah kita...
Sebau kentut kita....
Sehitam rambut kita....
Namun mengapa rasa dan ucap kita berbeda ???
Semua aksaraku tlah kusudahi dengan diamku
Namun bisuku tlah kauhujani dengan hunjaman hujat
Yang sedari mentari terlelap...
hingga keterjagaannya kembali dalam silaunya
Masih saja kau kicaukan ceracau kacaumu
Bahkan aksara batil...
yang talah kau racik dikala semalam
Kau linting dan kau bungkus laksa tembakau
tuk sesegera mungkin kau sulut
berharap asapnya kan tertebar keseluruh jagat
tertopang oleh sang bayu disegala arah mata angin
dengan sepesan warta beranting
bahwa aku si..gelandangan yang tengah bermimpi
bahwa aku si..pemulung yang tengah berdasi
bahwa aku si..lonte yang mengaku biarawati
bahwa aku si..pencuri yang bertoga laksa hakim
bahwa aku si..sejuta muka yang berdalil
...... ...... ...... .......
Jika angkaramu belumlah jua teredam....
lagukanlah durjanamu untukku...
dalam tembang ini...kutetap diam...
dalam geming yang setia memelukku....
kar'na bisu bibirkulah yang selalu nadakan lagu jujur hatiku
demiku....demi nama baikku....dan demi hujat batilmu
yang tak pernah usai telanjangiku....
~Enry Sulistyorini~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar