"DIAMKU UNTUK AKSARA BATILMU"
Sewarna darah kita...
Sebau kentut kita....
Sehitam rambut kita....
Namun mengapa rasa dan ucap kita berbeda ???
Semua aksaraku tlah kusudahi dengan diamku
Namun bisuku tlah kauhujani dengan hunjaman hujat
Yang sedari mentari terlelap...
hingga keterjagaannya kembali dalam silaunya
Masih saja kau kicaukan ceracau kacaumu
Bahkan aksara batil...
yang talah kau racik dikala semalam
Kau linting dan kau bungkus laksa tembakau
tuk sesegera mungkin kau sulut
berharap asapnya kan tertebar keseluruh jagat
tertopang oleh sang bayu disegala arah mata angin
dengan sepesan warta beranting
bahwa aku si..gelandangan yang tengah bermimpi
bahwa aku si..pemulung yang tengah berdasi
bahwa aku si..lonte yang mengaku biarawati
bahwa aku si..pencuri yang bertoga laksa hakim
bahwa aku si..sejuta muka yang berdalil
...... ...... ...... .......
Jika angkaramu belumlah jua teredam....
lagukanlah durjanamu untukku...
dalam tembang ini...kutetap diam...
dalam geming yang setia memelukku....
kar'na bisu bibirkulah yang selalu nadakan lagu jujur hatiku
demiku....demi nama baikku....dan demi hujat batilmu
yang tak pernah usai telanjangiku....
~Enry Sulistyorini~
Puisi "JENDELA HATI" ~ KOE....Oleh: Enry Sulistyorini,S.Pd
Rasa yang bersemayam di gubuk hati
Sabtu, 15 November 2014
"ENGKAU-KOE"
Kala Mentari mulai membacakan syairnya....
Kuhanya terdiam mendengar
Tak bergeming dari sesudut hati yang beku
Menikmati gagap cintaku yang lama tergagu
Selarik kutak hirau indah sinarnya...
Sebait kutak tertarik tuk turut senandungkan nada
Segatrapun kumasih nikmati bisuku
Berulang Mentari membaca aksara rasanya....
Hangatnya mulai singkap seluruh khayalku...
Yang sekian kala tak pernah berujar pada siapapun
pula pada sang bayu dan rembulan....
sesungging senyum mulai tempatkan diri
kala hangatmu menyentuh titik nadi cintaku
atas cintamu selaksa Mentari pagi...
agar suaraku kembali bisa kau dengar
bersama hilangnya desah gelisahku yang selama ini meratu
Setangkup gatra tlah mampu kuterjemahkan nadanya
bahkan senandungnyapun dapat kuikuti tanpa bisuku
segera kuberkemas berlari menuju pelukmu
Agar senandungku mampu kuselaraskan dgn senandungmu
Yang sekian lama kau nanti...
Yang sekian lama kau harap...
Bahwa aku adalah hidupmu....
Bahwa aku adalah mentarimu....
Begitupun kau....adalah mentariku dikala gundah hariku
dan kau.....adalah Purnamaku di kala gelisah hariku...
dan kau....adalah Halimun di rinai Rinduku....
~Enry Sulistyorini~
Kala Mentari mulai membacakan syairnya....
Kuhanya terdiam mendengar
Tak bergeming dari sesudut hati yang beku
Menikmati gagap cintaku yang lama tergagu
Selarik kutak hirau indah sinarnya...
Sebait kutak tertarik tuk turut senandungkan nada
Segatrapun kumasih nikmati bisuku
Berulang Mentari membaca aksara rasanya....
Hangatnya mulai singkap seluruh khayalku...
Yang sekian kala tak pernah berujar pada siapapun
pula pada sang bayu dan rembulan....
sesungging senyum mulai tempatkan diri
kala hangatmu menyentuh titik nadi cintaku
atas cintamu selaksa Mentari pagi...
agar suaraku kembali bisa kau dengar
bersama hilangnya desah gelisahku yang selama ini meratu
Setangkup gatra tlah mampu kuterjemahkan nadanya
bahkan senandungnyapun dapat kuikuti tanpa bisuku
segera kuberkemas berlari menuju pelukmu
Agar senandungku mampu kuselaraskan dgn senandungmu
Yang sekian lama kau nanti...
Yang sekian lama kau harap...
Bahwa aku adalah hidupmu....
Bahwa aku adalah mentarimu....
Begitupun kau....adalah mentariku dikala gundah hariku
dan kau.....adalah Purnamaku di kala gelisah hariku...
dan kau....adalah Halimun di rinai Rinduku....
~Enry Sulistyorini~
"CINTAMU"
Aku harus berucap apa.....
'Pabila cintamu runtuh menimbunku...
tak sedikitpun berikan ruang tuk kilafku
menghindar dari cinta terhebatmu...
Satu persatu kucoba kais pilah cintamu
Adakah gelap disana yang menyelubungimu
tanpa setahu anjung netraku...
Adakah kelam disana yang memelukmu
tanpa setahu peka rasaku....
Dan ragukupun terpalung di pusara
Oleh jawab lirih lugasmu....
Bahwa.....
Noktah cintamu tak pernah terjeda lalai
untukku dan hanya untukku
di sematan kala tak berbatas
di senyum rembulan hingga mentari yang menerik
dan kembali merebah pada sang jingga senja
Cintamu tetap kau suntingkan untukku tanpa gagu
dengan sekuntum rindu yang tak pernah layu dan mengering....
Kar'na kelopak kelopak cintamu
selalu kau sirami dengan kecupan doa setia untukku
tanpa palingkan rasa sekedip matapun
~Enry Sulistyorini~
Aku harus berucap apa.....
'Pabila cintamu runtuh menimbunku...
tak sedikitpun berikan ruang tuk kilafku
menghindar dari cinta terhebatmu...
Satu persatu kucoba kais pilah cintamu
Adakah gelap disana yang menyelubungimu
tanpa setahu anjung netraku...
Adakah kelam disana yang memelukmu
tanpa setahu peka rasaku....
Dan ragukupun terpalung di pusara
Oleh jawab lirih lugasmu....
Bahwa.....
Noktah cintamu tak pernah terjeda lalai
untukku dan hanya untukku
di sematan kala tak berbatas
di senyum rembulan hingga mentari yang menerik
dan kembali merebah pada sang jingga senja
Cintamu tetap kau suntingkan untukku tanpa gagu
dengan sekuntum rindu yang tak pernah layu dan mengering....
Kar'na kelopak kelopak cintamu
selalu kau sirami dengan kecupan doa setia untukku
tanpa palingkan rasa sekedip matapun
~Enry Sulistyorini~
“PAYUNG~MU”
Menampang di beranda hati
Hantarkan jiwa jiwa yang tak terjaga
Disetiap celah hati merawan tebarkan senyum
Menggoda setiap sudut sudut rasa nakal
Gelitik usia usia beruban dan mengeriput
Bahkan pekiknya makin menggelinjang
Disela sela pikir yang tak selaras jalan
Dengan sekendi cuap…..
Usia tak usaikan hasrat tuk akhiri sekilas kisah !
Yang giurkan tawaran pesona cinta tanpa ikrar
Bersenda demi gala semu
Bercanda dalam muslihat rayu ayu nan ranum
Meski nikmatnya
tepiskan dahaga sesaat
Lupakan segala suguh setia yang dulu selalu terkantongi
Demi umbar rona tawa
yang tersingkap mulus
Dibantaran fatamorgana yang terbangun retak di atas terik
Hingga tak seganmu berucap tanpa kesantunan…
Buang payung yang sekian kala memayungi teduh damaimu….
~Enry Sulistyorini~
Langganan:
Postingan (Atom)